Sabtu, 02 Agustus 2014

fitrah manusia




BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar belakang
Manusia merupakan makhluk yang istimewa. Hal ini dikarenakan manusia dikaruniai akal sebagai keistimewaan dibandingkan makhluk lainnya. Manusia merupakan makhluk mulia dari segenap makhluk yang ada di alam raya ini. Allah  telah membekali manusia dengan berbegai keutamaan sebagai siri khas yang membedakan denngan makhluk yang lain. Untuk mengetahui komponen yang ada dalam manusia, hal ini bisa dilihat pengertian manusia dari tinjauan al qur’an.
Keistimewaan manusia juga dikarenakan manusia memiliki potensi yang dikenal dengan istilahfitrah. Banyak persepsi mengenai makna fitrah. Sehingga kadang melenceng dari konsep fitrah  yang sesuai dengan yang dimaksudkan dalam al  Qurr’an dan hadis nabi. Selain itu bagaimana fitrah manusia dikaitkan  dengan konsep pendidkan islam.
B.     Rumusan masalah
Dengan makalah ini kami akan membahas tentang Bagaimana perkembangan fitrah Manusia menurut Pendidikan Islam.
C.    Tujuan Penulisan
Dengan ditulisnya makalah ini, disamping menunaikan kewajiban yang diberikan oleh dosen pembimbing, kami juga bertujuan sedikit bisa membantu memberikan gambaran tentang perkembangan fitrah Manusia menurut Pendidikan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Manusia dan Fitrahnya
Manusia disitilahkan dalam al qur’an dalam tiga hal, yaitu al-basyir, al- insan, dan an-nas:[1]
Al-basyar dapat dipahami bahwa manusia merupakan makhluk biologis yang memiliki sagala sifat kemanusiaan dan keterbatasan, seperti makan, minum, seks, kebahagiaan, dan lainnya. Adapun kataal-insan dapat diartikan harmonis, lemah lembut, tampak , atau pelupa. Secara istilah al-insanberarti adanya totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan ruhani. Harmonisasi kedua aspek tersebut mengantarkan manusia sebagai mahluk Allah yang unik dan istimewa. Hal ini akan terintegrasi dalam iman dan amalnya. Dan An-Nas menunjukkan  pada eksistenti manusia sebagai makhluk social secara keseluruhan Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk struktur yang sempurna. Hal ini bisa dilihat dari ciptaan Allah yang lainnya. Penciptaan selain manusia hanya terdiri dari struktur jasmani (fisiologi) saja. Kalaupun ada stuktur rohani seperti yang terdapat pada hewan dan tumbuhan, tetapi tidak dikarunia akal sebagai sentral aktivitas manusia. Manusia memiliki kedua struktur tersebut, jasmani dan rohani.  Dengan kedua struktur tersebut, maka manusia memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Dalam dunia psikologi disebut dengan potensialitas atau disposisi atau prepotence reflexes.[2]
B. Fitrah Manusia
Dalam pandangan Islam kemampuan dasar dan keunggulan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya atau pembawaan disebut dengan fitrah,  yang berasal dari kata فطر yang dalam pengertian etimologi mengandung etimologi kejadian. Kata tersebut berasal dari kata الفا طر yang berarti pecahan atau belahan. Secara umum pemaknaan fitrah dalam al Qur’an dapat dikelompokkan setidaknya dalam empat makna:
1. Proses penciptaan langit dan bumi
2. Proses penciptaan manusia
3. Pengaturan alam semesta dan isinya secara serasi dan seimbang
4. Pemaknaan pada agama Allah sebagai acuan dasa dan pedoman bagi manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya.[3]
Apabila makna fitrah dirujuk pada manusia maka makna fitrah memiliki berbagai pengertian. Seperti dalam surat Ar-Rum ayat 30, yang bermakna bahwa fitrah manusia yaitu potensi manusia untuk beragama atau bertauhid kepada Allah. Bahkan iman bawaan telah diberikan kepada manusia semenjak lahir. Makna fitrah harus mencakup tentang manusia yang membutuhkan interaksi terhadap lingkungannya. Hal ini dikarenakan tugas pokok manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Hal ini dikarenakan, dalam pelaksanaan kekhalifahannya, manusia senantiasa memerlukan interaksi denga orang lain atau makhluk lainnya. Untuk itu, menurut Hasan Langgulung fitrah berarti, potensi-potensi yang dimiliki manusia. Potensi-potensi tersebut meruakan keterpaduan yang tersimpul dalam al asma’ul al husnah (sifat-sifat Allah)..
C. Komponen Psikologi Dalam Fitrah
Fitrah merupakan kondisi jiwa yang suci, bersih yang reseptif terbuka kepada pengaruh eksternal termasuk pendidikan. Kemampuan untuk mengadakan reaksi atau response terhadap pengaruh dari luar tidak terdapat di dalam fitrah pendapat ini di kemukakan oleh ahli sunnah wal jamaah.
Fitrah adalah factor kemampuan dasar perkembangan manusia yang dibawa sejak lahir dan berpusat pada potensi dasar untuk berkembang. Potensi dasar tersebut sacara menyeluruh (integral) yang menggerakkan seluruh aspek-aspeknya secara mekanistik yang mana satu sama lain saling mempengaruhi menuju kearah tujuan tertentu. Aspek-aspek fitrah merupakan komponen dasar bersifat dinamis, responsive terhadap pengaruh linkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan. Komponen- komponen dasar tersebut meliputi :
1. Bakat, merupakan suatu kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan kemampuan akademis (ilmiah) dan keahlian (profesionla) dalam berbagai bidang kehidupan. Bakat ini berpangkal pada kemampuan kopmisi (daya cipta), konasi (kehendak), dan emosi yang disebut dengan tri kotomi (tiga kekuatan kemampuan rohani manusia). Masing-masing kekuatan rohani berperan.
2. Insting (ghorizah), adalah kemampuan berbuat atau bertingkah tanpa melalui proses belajar. Kemampuan insting tersebut merupakan pembawaan sejak lahir juga. Dalam psikologi pendidikan kemampuan ini termasuk kapabilitas yaitu kemampuan berbuat sesuatu dengan melalui proses belajar. Jenis-jenis tingkah laku manusia :
- melarikan diri karena perasaan takut
- menolak Karena jijik
- ingin tahu karena takjub sesuatu
- melawan karena kemarahan
- menonjolkan diri karena adanya harga diri.
D.    Hubngan Fitrah Manusia dengan Kependidikan
Fitrah yang mengandung implikasi pendidikan mengandung paham nativisme. Maksudnya bahwa manusia mempunyai potensi dasar beragama yang tidak dapat dirubah.[4] Fitrah yang bercorak nativisme ini berkaitan juga dengan factor hereditas (keturunan) yang bersumber dari orang tua, termasuk juga keturunan beragama. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Nuh ayat 26-27:
tA$s%ur ÓyqçR Éb>§‘ Ÿw ö‘x‹s? ’n?tã ÇÚö‘F{$# z`ÏB tûï͍Ïÿ»s3ø9$# #·‘$­ƒyŠ ÇËÏÈ   y7¨RÎ) bÎ) öNèdö‘x‹s? (#q=ÅÒムš‚yŠ$t6Ïã Ÿwur (#ÿrà$Î#tƒ žwÎ) #\Å_$sù #Y‘$¤ÿŸ2 ÇËÐÈ  
Artinya: Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma'siat lagi sangat kafir( QS.NUH 26-27).
Menurut Ali Firi dalam buku M. Arifin, salah seorang ahli pendidikan Mesir  menyatakan bahwa kecenderunga nafsu berpindah dari orang tua secara turun temurun. Namun demikian fitrah itu tetap harus dipelihara dan dan dijaga. Sehingga peran lingkungan sangat penting dalam mengembangkan potensi seorang manusia. Potensi anak akan dikembangka melalui proses pendidikan. Sehingga dalam proses pendidikan menjelaskan bahwa fitrah yang telah dibawa sejak lahir bagi anak akan memiliki pengaruh yang cukup besar dipengaruhi dengan lingkungan.Fitrah tidak akan berkembang tanpa dipengaruhi oleh kondisi  lingkungan sekitar. Lingkungan mampu mengubah fitrah secara drastis, ketika lingkungan sebagai tempat interaksi membentuk kepada hal yang buruk. Sifat dasar fitrah ditentukan dari semakin sering atau tidaknya dengan lingkungan. Meskipun demikian, lingkungan tidak selamanya mampu mengubah kepribadian seseorang. Banyak juga contoh orang baik lahir dari lingkungan atau masyarakat yang  zhalim.
Konsep fitrah juga menuntut agar pendidikan islam harus bertujuan mengarahkan pendidikan demi terjalinnya ikatan kuat seorang manusia dengan Allah. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa fitrah manusia dekat dengan tauid. Tauhid telah menjadi essensi dari semua bentuk agam-agama. 
Fitrah juga dapat diartikan sebagai kecenderungan-kecenderungan, seperti makan, minum, kebutuhan sex dan lainnya. Kecenderunga ini berperan bagi jasmani manusia yang tercipta   dari tanah, sebagimana terdapat dalam surat As- Sajadah ayat 7:
ü“Ï%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&y‰t/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ  
Artinya: yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.(QS.As-Sajadah 7).
BAB II
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Manusia memelukan Pendidikan  untuk mengembangkan potensi dalm dirinya. Hal ini dikarenakan,fitrah manusia tidak bisa dibiarkan berkembang bebas. Fitrah tersebut harus dididik dan diarahkan agar sesuai dengan peran manusia diciptakan di muka bumi ini. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa fitrah mempunyai dua kecenderungan yang berlawana, yaitu kearah kebaikan dan ke burukan. Untuk itu, proses pendidikan harus dilakukan, agar manusia tetap berada dalam lingkup kebaikan.
B.     Saran-saran
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini belumlah begitu sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kepada siapa saja yang berkenan membaca makalah ini agar kiranya dapat memberikan saran-saran yang sifatnya membangun kepada makalah ini, agar kami dapat memperbaikinya dipembuatan makalah-makalah yang akan datang.


                   [1]Samsul Nizar, Pengantar Dasar-Dasar Pemikira Pendidikan Islam, (Jakarta: Media Pratama,2001), h. 44
                        [2] M.Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003) h. 42
                   [3] Samsul Nizar, Op Cit., h. 73
                   [4] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta:Bumi Aksara, 1991) h. 43

Tidak ada komentar:

Posting Komentar