Selasa, 18 Maret 2014

Ikiefmtv, MAKALAH SUBJEK PENDIDIKAN



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Al-qur’an adalah kalamullah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai pedoman bagi kehidupan manusia (way of life). Al-qur’an mengandung beberapa aspek yang terkait dengan pandangan hidup yang dapat membawa manusia ke jalan yang benar dan menuju kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dari beberapa aspek tersebut, secara global terkandung materi tentang kegiatan belajar-mengajar atau pendidikan yang tentunya membutuhkan komponen- komponen pendidikan, diantaranya yaitu pendidik dan peserta didik.
Pendidik dalam proses pendidikan adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Selain pendidik, peserta didik juga mempunyai peran penting dalam proses pendidikan, tanpa adanya peserta didik, maka pendidik tidak akan bisa menyalurkan pengetahuan yang dimilikinya sehingga proses pembelajaran tidak akan terjadi dan menghambat tercapainya tujuan pendidikan antara pendidik dan peserta didik harus sejalan agar tujuan pendidikan dapat tercapai.
B.  Rumusan Masalah
Ø Apa pengertian subjek pendidikan?
Ø Bagaimana penjelasan ayat-ayat yang mengenai subjek pendidikan?
C. Tujuan penulisan
Disamping menunaikan tugas yang telah diberikan oleh Dosen pembimbing makalah ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaiman subjek pendidikan menurut Al-Qur’an dan ayat-ayat yang mengenai subjek pendidikan.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian subyek pendidikan
Subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan.
Subjek pendidikan yang dipahami kebanyakan para ahli pendidikan adalah orang tua, guru-guru di institusi formal (disekolah) maupun non formal dan lingkungan masyarakat, sedangkan pendidikan pertama (tarbiyatul awwal) yang kita pahami selama ini adalah rumah tangga (orang tua). Sebagai seorang muslim kita harus menyatakan bahwa pendidik pertama manusia adalah Allah dan yang kedua adalah Rasulullah.
Ø Kita dapat membedakan pendidik itu menjadi dua kategori yaitu:
1.    Pendidik menurut kodrat, yaitu orang tua
Orang tua sebagai pendidik menurut kodrat adalah pendidik pertama dan utama, karena secara kodrat anak manusia dilahirkan oleh orang tuanya (ibunya) dalam keadaan tidak berdayam hanya dengan pertolongan dan layanan orang tua (terutama ibu) bayi (anak manusia) itu dapat hidup dan berkembang semakin dewasa. Hubungan orang tua dengan anaknya dalam hubungan edukatif, mengandung dua unsur dasar, yaitu:
a.       Unsur kasih sayang pendidik terhadap anak
b.      Unsur kesadaran dan tanggung jawab dari pendidik untuk menuntun perkembangan anak
2.    Pendidik menurut jabatan, yaitu guru
Guru adalah pendidik kedua setelah orang tua. Mereka tidak bisa disebut secara wajar dan alamiah menjadi pendidik,  karena mereka mendapat tugas dari orang tua, sebagai pengganti orang tua. Mereka menjadi pendidik karena profesinya menjadi pendidik, guru di sekolah misalnya.
Dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru adalah pendidk profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formanl, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Guru berfungsi sebagai pendidik di samping sebagai pengajar. Guru membentuk sikap siswa, bahwa guru menjadi contoh atau teladan bagi siswa-siswanya. Hal itu tidak mungkin kalau guru hanya bertuigas mengajar saja.[1]
B.  Ayat-ayat tentang subyek pendidikan
1)      Tafsir Q.S. Ar-Rahman ayat 1-4
ß`»oH÷q§9$# ÇÊÈ   zN¯=tæ tb#uäöà)ø9$# ÇËÈ   šYn=y{ z`»|¡SM}$# ÇÌÈ   çmyJ¯=tã tb$u‹t6ø9$# ÇÍÈ  
Artinya: “Tuhan yang maha pemurah. Dia-lah yang telah mengajarkan Al-qur’an. Dia telah menjadikan manusia. Dia telah mengajarnya pandai berbicara”.[2]
Ø  Kosa Kata
ٲﻟرَﺣ۟ﻤٰﻦُ         = ( Allah) Yang Maha Pemurah
ﻋَﻠَّﻢَ       = Dia telah mengajarkan
ٲﻟ۟ﻘُﺮ۟ءَانَ     = Al –Qur’an
ﺧَﻠَﻖ      = Dia telah menciptakan
ٲﻹِ۟ﻧ۟ﺴٰﻦ     = manusia
ﻋَﻠَّﻤَﻪُ      = Dia mengajarkannya
ٲﻟَ۟ﺒَﻴَﺎنَ      = jelas (berbicara)
Firman Allah SWT ٲﻟرَﺣ۟ﻤٰﻦُ  (Allah) yang Maha Pengasih ﻋَﻠَّﻢَٲﻟ۟ﻘُﺮ۟ءَانَ Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Maksudnya yaitu yang telah mengajarkan kepada Nabi-Nya hingga dia dapat menyampaikan kepada seluruh manusia. Surah ini diturunkan ketika orang-orang bertanya, “ apa ٲﻟرَﺣ۟ﻤٰﻦُ  itu?”. Ada juga yang mengatakan bahwa surah ini turun sebagai bantahan atas penduduk Makkah ketika mereka berkata, “Sesungguhnya yang mengajarinya (Muhammad) adalah manusia, yaitu orang Yamamah Yang bernama Rahman.” Yang mereka maksudkan adalah Musailamah Al Kadzdzab (si pembohong). Allah SWT pun menurunkan firman-Nya, ٲﻟرَﺣ۟ﻤٰﻦُ ۝ ﻋَﻠَّﻢَٲﻟ۟ﻘُﺮ۟ءَانَ ۝(Allah) yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.[3]
Az-Zajjaj berkata, “makna firman Allah SWTﻋَﻠَّﻢَٲﻟ۟ﻘُﺮ۟ءَانَ  adalah Dia memudahkan Al-Qur’an untuk diingat dan dibaca. Sebagaimana Dia berfirman, ﻮَﻟَﻘَﺪ۟ﻳَﺴَّﺮ۟ﻧَﺎٲﻟ۟ﻘُﺮ۟ءَانَﻟِﻠﺬِّﻜ۟ﺮِ “dan sesungguhnyatelah kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran”.
Firman Allah SWT, ﺧَﻠَﻖَٲﻹِ۟ﻧ۟ﺴٰﻦَ “Dia menciptakan manusia”. Ibnu Abbas RA,Qatadah dan Hasan berkata,”maksudnya adalah Adam”.
Firman Allah, ﻋَﻠَّﻤَﻪُٲﻟَ۟ﺒَﻴَﺎنَ “Mengajarnya pandai berbicara” maksudnya mengajarkan nama-nama segala sesuatu. Ada juga yang mengatakan bahwa maksudnya adalah mengajarkan bahasa seluruhnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA juga dan Ibnu Kaisan bahwa maksud ﻹِ۟ﻧ۟ﺴٰﻦَ disini adalah Muhammad SAW dan maksud ٲﻟَ۟ﺒَﻴَﺎن adalah kejelasan yang halal dan yang haram dan petunjuk dari kesesatan.
Ada lagi yang mengatakan bahwa maksud ﻹِ۟ﻧ۟ﺴٰﻦَ adalah seluruh manusia. Artinya itu adalah nama bagi jenis, sementara maksud ﻟَ۟ﺒَﻴَﺎن  berdasarkan pendapat ini adalah bicara dan paham. Ini termasuk hal yang menjadikan manusia lebih utama dari seluruh makhluk hidup.[4]
Ø  Nilai nilai pendidikan yang terkandung:
Dari surat Ar-Rahman ayat 1-4 kita dapat mengetahui beberapa nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya, yaitu dikatakan bahwa Allah telah mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia, sehingga manusia tersebut menjadi pandai dalam berbicara, maksudnya, ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada manusia itu bertujuan untuk memberi pedoman kepada manusia agar manusia itu dapat memahami isi serta maknanya, sehingga manusia dapat bertingkah laku yang sesuai dengan pedomannya yaitu Al-Qur’an.
Dalam kegiatan pembelajaran kita dapat mengartikan seorang guru yang mengajarkan suatu ilmu kepada muridnya agar dapat dipahami apa yang diberikan oleh gurunya tersebut. Sehingga ketika seorang guru memberikan evaluasi kepada muridnya tentang pelajaran yang telah diberikan tersebut, maka muridnyapun akan dapat menjawab dan mengerjakannya dengan baik dan benar. Sehingga murid tersebut menjadi pandai dengan ilmu yang telah diberikan oleh gurunya.
2)      Tafsir Q.S. An-Najm ayat 5-6
¼çmuH©>tã ߉ƒÏ‰x© 3“uqà)ø9$# ÇÎÈ   rèŒ ;o§ÏB 3“uqtGó™$$sù ÇÏÈ  
Artinya:  yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat(5). yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) Menampakkan diri dengan rupa yang asli(rupa yang bagus dan perkasa) (6).
Ø  Kosa Kata
ﻋَﻠَّﻪُ           = mengajarkan kepadanya
ﻤَﺷَﺪِﻳ۟ﺪ        = (Jibril) yang sangat
اﻟ۟ﻘُﻮَﻰ         = kuat
ذُو۟ﻣِﺮَّةٍۗ        = mempunyai kekuatan
ﻓَﺴ۟ﺘَﻮَی              = lalu dia cukup sempurna
Surat An-Najm ayat 5-6 menjelaskan bahwa yang menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. adalah malaikat Jibril yang mana diberi potensi  aqliyah yang sempurna. Kemudian dia (Jibril) juga menampakkan diri dengan rupa yang asli dan tampl sempurna. Dan dalam surat ini juga menjelaskan bahwa subjek pendidikan adalah malaikat Jibril yang mana punya potensi yang kuat dalam menerima wahyu-wahyu Allah untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.[5]
Ø  Nilai-nilai pendidikan yang terkandung:
Pada surat An-Najm ayat 5-6 ditegaskan klasifikasi seorang pendidik atau siapa saja yang berkompeten menjadi subjek pendidikan, yakni seperti yang tersurat dalam ayat ini adalah seperti halnya seorang malaikat Jibril yang mana beliau digambarkan sebagai berikut :
·      Sangat kuat, maksudnya memiliki fisik dan psikis yang matang dan mampu memecahkan masalah.
·      Mempunyai akal yang cerdas, yakni seorang pendidik haruslah memiliki akal yang mumpuni dalam mengajarkan apa yang diajarkannya sebagai subyek pendidikan.
·      Menampakkan dengan rupanya yang asli, yakni seorang subyek pendidikan hendaklah bersikap wajar yang tidak melebih-lebihkan segala sesuatu baik dirinya maupun apa yang dilakoninya dalam bidangnya.
Berdasarkan penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sebagai subjek pendidikan kita harus:
·      Dapat menjadi model dan teladan bagi murid-murid kelak.
·      Menguasai materi yang akan diajarkan.
·      Bersikap sewajarnya seorang guru tanpa ada sesuatu yang menyimpang.
3)      Tafsir Q.S. Al-Baqaroh ayat 129
$uZ­/u‘ ô]yèö/$#ur öNÎg‹Ïù Zwqß™u‘ öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Gtƒ öNÍköŽn=tæ y7ÏG»tƒ#uä ÞOßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur öNÍkŽÏj.t“ãƒur 4 y7¨RÎ) |MRr& Ⓝ͕yèø9$# ÞOŠÅ3ysø9$# ÇÊËÒÈ  
Artinya: Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Ini adalah doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang ketiga dan yang terakhir di sela-sela kesibukannya menyelesaikan renovasi dan pemugaran Ka’bah. Kandungan doa ini hanya satu macam, tapi agaknya ke sinilah semua doa sebelumnya bermuara. Yaitu, kedua nabi besar ini meminta agar di tengah-tengah masyarakat baru yang dibentuknya suatu saat di-bi’tsa (dibangkitkan) seorang rasul dari kalangan mereka sendiri; maksudnya, dari kalangan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang bermukim di tempat itu. Doa ini mengisyaratkan bahwa dari rumpun ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya akan ada satu garis yang terjaga kesuciannya, yang tidak melakukan kezaliman, yang kelak akan melahirkan buah kerasulan, yang akan menghidupkan kembali مِّلَّة (millah) Ibrahim, memurnikan manasik-nya, dan mengimami أُمَّةً مُّسْلِمَةً (ummatan muslimatan, Umat Muslim). Di sinilah kita bisa dengan mudah memahami kenapa ada doa pertobatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di ujung doanya di ayat sebelumnya (128). Rupanya, doa itu adalah pagar terhadap generasi demi generasi agar garis tersebut benar-benar terjaga. Metoda penjagaan dan keterjagaan inilah yang Allah hendak sampaikan saat menceritakan prosesi kelahiran Nabi Isa dari seorang wanita suci bernama Maryam yang juga merupakan ‘hasil’ penjagaan dari generasi sebelumnya, yakni Keluarga Imran.
Ø  Nilai-Nilai Pendidikan yang Terkandung
1.      Pendidik
Dalam ayat tersebut, yang berperan sebagai pendidik adalah Rasul.[6] Di sini Allah menggunakan kata يُعَلِّمُهُم (yu’allimuɦum), yang artinya “mengajarkan kepada mereka”. Yang perlu kita garisbawahi di sini ialah kata يُعَلِّم (yu’allimu)-nya. Karena ini menunjukkan bahwa, dalam kaitannya dengan Kitab Suci, ‘profesi’ rasul ialah sebagai guru dalam seluruh pengertiannya (mengajarkan, mencontohkan, menuntunkan cara penerapannya), persis ‘profesi’.
2.      Peserta Didik
Peserta didik yang ada dalam ayat tersebut adalah umat nabi Muhammad SAW. Dimana Rasul akan mengajarkan orang-orang yang ummi (yang tidak mengerti baca tulis), menuntun orang-orang yang sesat kejalan kebaikan, dan menegakkan kebenaran di seluruh alam semesta.[7]
3.      Metode Pendidikan
Metode pendidikan terdapat pada, يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ (yatlŭw ‘alayɦim āyātika, menelaahkan kepada mereka ayat-ayat-Mu). Kata يَتْلُو (yatlŭw, menelaahkan) bermakna menguraikan sedemikian rupa sehingga penerima bisa memahaminya dengan benar, jadi bukan sekedar membacakan atau menyampaikan. Di Surat Yusuf ayat 108 dikatakan عَلَى بَصِيرَةٍ (‘alā bashĭyratin), dengan argumen yang bisa diterima oleh bashĭrah, oleh cernaan nalar insani atau akal budi (baik melalui telaah intelektual ataupun melalui serapan spiritual), sehingga penerima tidak punya celah untuk ‘lari’. Sehingga yang menolak, benar-benar hanyalah mereka yang tertutup pintu hati dan pikirannya; dan karenanya pantas disebut “kafir” (sengaja ingkar).
Jadi, pada ayat tersebut, metode pendidikan yang digunakan adalah dengan membacakan, mengajarkan, dan menyucikan (melarang mereka dari perbuatan dosa dan kejahatan).
4.      Materi pendidikan
Dalam ayat tersebut apa yang ditelaahkan atau yang diajarkan? Jawabannya: آيَاتِكَ (āyātika), ayat-ayat, tanda-tanda, petunjuk-petunjuk, atau alamat-alamat yang mengantarkan penerima mengenal dan memahami hakikat “ayat” tersebut dan hubungan singkronitasnya dengan Pemilik “ayat” alias Penciptanya. Dari sini diharapkan muncul kesadaran bertingkat, sesuai dengan kadar mujahadah dan martabat ruhani yang telah dicapainya. Untuk kalangan pemula (al-mubtadi), timbul pemahaman bahwa betul-betul لامعبودالاالله (lā ma’bŭwda illallaɦ, tidak ada yang pantas diibadahi selain Allah). Sementara untuk kalangan menengah (al-mutawassith), mereka sudah sampai pada faham bahwa bukan saja tidak ada yang pantas diibadahi selain Allah, tapi juga لامقصودالاالله (lā maqshŭwda illallaɦ, tidak ada yang pantas dituju selain Allah). Dan kalangan pemilik martabat paling tinggi (al-muntaɦā) sudah meyakini bahwa الاالله لامحبوب (lā mahbŭwba illallaɦ, tidak ada yang pantas dicintai selain Allah).
5.      Media Pendidikan
Media pendidikan terdapat pada, وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (wa yu’allimuɦumul-kitāba wal-hikmah, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah). Beranjak dari kesadaran teologis setelah ‘menyaksikan’ tanda-tanda kebesaran Allah, setelah meyakini keberadaan-Nya, dan merasakan sentuhan-Nya, Rasul kemudian mengajari mereka Kitab Suci. Ini penting. Karena bagaimana mungkin seseorang meyakini Kitab Suci sebagai ‘wejangan’ Tuhan kalau pada saat yang sama yang bersangkutan tidak meyakini adanya Tuhan. Bisa diformulasikan begini: “Daya serap seseorang terhadap Kitab Suci berbanding lurus dengan kesadaran teologis orang itu.” Semakin sempurna kesadaran teologis seseorang semakin sempurna pula fahamannya terhadap Kitab Suci. Begitu juga sebaliknya. Jadi, media pendidikan yang ada dalam ayat tersebut adalah al-Kitab (al-Quran), dan al-Hikmah (Al-Sunnah).
6.      Kurikulum Pendidikan
Doanya singkat. Namun yang agak panjang disebutkan di dalamnya ialah tugas dari rasul tersebut. Ada tiga tugas pokok seorang rasul: menelaahkan kepada manusia ayat-ayat Allah, mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah, dan mensucikan mereka. Di beberapa ayat (2:151, 3:164, dan 62:2) susunan ini dibalik, dengan menempatkan “mensucikan mereka” pada urutan kedua setelah “menelaahkan kepada manusia ayat-ayat Allah”. Susunan ini sekaligus semacam kurikulum yang memuat tema-tema pokok yang harus dilakukan oleh seorang rasul (atau pengganti pelaksana rasul, termasuk para ustad dan muballigh) karena sejalan dengan tuntutan fithrah manusia, sejalan dengan alur pertanyaan intelektual, sejalan dengan hasrat kerinduan spiritual.
7.      Tujuan Pendidikan
Dalam ayat tersebut, tujuan pendidikan yang hendak dicapai adalah untuk memberikan pemahaman tentang ajaran-ajaran yang ada dalam al-Quran dan al-Sunnah.
4)      Tafsir Q.S. Al-Imron Ayat 164
ô‰s)s9 £`tB ª!$# ’n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# øŒÎ) y]yèt/ öNÍkŽÏù Zwqß™u‘ ô`ÏiB ôMÎgÅ¡àÿRr& (#qè=÷Gtƒ öNÍköŽn=tæ ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÅe2t“ãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJò6Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% ’Å"s9 9@»n=|Ê AûüÎ7•B ÇÊÏÍÈ  
Artinya: sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Di dalam ayat ini, Allah memberitahukan kepada semua umat Rasulullah saw. bahwa diutusnya seorang nabi dari kalangan manusia kepada mereka adalah satu karunia yang sangat besar dan tak pernah tertandingi oleh kenikmatan apapun.Rasul yang diutus kepada manusia itu mempunyai beberapa tugas. Diantaranya adalah:
1.    Membacakan ayat-ayat Allah.
2.    Mensucikan dari berbagi dosa dengan mengajak mereka untuk selalu bertaubat dan berhenti melakukan maksiat. 
3.    Mengajarkan Al-Qur`an dan Hadits.
Dengan adanya Rasul, manusia yang dulunya tersesat, memiliki faham yang salah, melakukan perbuatan-perbuatan asusila, mereka lantas mendapat pencerahan dan petunjuk kebenaran. Mereka mendapatkan cahaya hidayah, dimana sebelumnya mereka ada dalam kegelapan yang nyata. Mereka lantas tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang haq mana yang bathil. Karena ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. telah mampu mengubah kebiasaan buruk mereka, dan mampumengentaskan mereka dari segala bentuk kejahiliyyahan.
Ø  Nilai-nilai pendidikan yang terkandung
Dalam ayat ini dapat kita ambil pelajaran tentang tiga prinsip dasar pendidikan. Yaitu:
·      Tilawah. Hal ini memberikan isyarat bahwa dalam pendidikan perlu diajarkan sebuah skill atau yang sekarang dikenal dengan kemampuan afektif. Karena tilawah adalah salah satu bentuk skill membaca yang sungguh sangat penting. Karena denganya terbuka berbagai cakrawala pengetahuan. Dalam praktekanya, Rasulullah menghasung umatnya untuk mengembangkan berbagai skill, seperti belajar memanah, menunggang kuda, berenang, menguasai bahasa asing, dll.
·      Tazkiyah. Hal ini menunjukkan perlu adanya pendidikan emosional atau yang dikenal dengan istilah psikomotorik. Maka tidak heran jika Rasulullah selalu membina umatnya tentang pentingnya akhlak-akhlak yang mulia, seperti jujur, pemaaf, tidak mudah marah, sabar dan ridho terhadap sebuah musibah dll.
·      Ta’lim, bisa disebut dengan kemampuan kognitif. Yaitu dengan adanya transfer ilmu sehingga umat mempunyai kemampuan untuk berpikir dan mengamalkan.
Tiga prinsip ini harus dimiliki oleh seorang pendidik. Entah itu guru, ustadz, suami, istri, ayah, ibu atau yang lainnya.
Kebanyakan orang tua hanya memikirkan bagaimana caranya supaya anak bisa mendapatkan kecerdasan IQ dan prestaasi yang luar biasa, tetapi mereka melupakan kualitas spiritual dan emosional mereka. Sehingga bila anak-anak belajar agama, mereka hanya disuruh menghafal saja tanpa adanya pengamalan dan penghayatan dari apa yang mereka lakukan. Mereka hafal cara berwudhu, shalat, dan sebagainya. Tetapi hanya sebatas hafal sehingga apa yang mereka pelajari tidak berbekas apapun dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, marilah kita didik anak-anak kita dengan baik dan benar sesuai dengan Al-Qur`an dan hadits. Sebagai orang tua, pendidik mereka yang pertama kali, kita harus mengarahkan mereka menjadi tunas-tunas Islam yang berkualitas, yang mempunyai ilmu din Islam yang dalam, disamping ilmu keduniaan. Tidak hanya berhenti sampai di situ. Tetapi juga sampai pada tingkat mereka mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain. Sebagaimana dikatakan oleh ulama Al-ilmu laisa lir riwayah walakin lil amal. Ilmu itu bukan hanya diriwayatkan (ditransfer) saja. Tapi perlu adanya pengamalan. Tidak ada gunanya hanya belajar saja tetapi tidak mengamalkan ilmu tersebut.
Sebagai orang tua ataupun guru, perlu adanya pemberian contoh yang benar selama mengajarkan atau memerintah kebaikan kepada anak-anak. Sebab pemberian contoh atau praktek dari seorang guru atau orang tua akan memberikan bekas yang lebih mendalam didalam kepribadian anak-anak.[8]
5)      Tafsir Q.S. Al-Jumuah ayat 2
uqèd “Ï%©!$# y]yèt/ ’Îû z`¿Íh‹ÏiBW{$# Zwqß™u‘ öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Ftƒ öNÍköŽn=tã ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÏj.t“ãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% ’Å"s9 9@»n=|Ê &ûüÎ7•B ÇËÈ  
Artinya: Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah telah membangkitkan di kalangan orang Arab yang ummiy itu seorang rasul yang diutus untuk segenap manusia dengan membawa kitab dan hikmah. Yang demikian itu adalah keutamaan allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Allah mengutus Rasul seorang ummiy yang tidak dapat membaca dan menulis, agar kenabiannya tidak diragukan dengan kata-kata mereka, bahwa dia telah mengambilnya dari kitab-kitab orang-orang terdahulu.
Di antara hikmah Allah Ta’ala, bahwa dia mengutus rasul yang seprti mereka, ialah agar mereka memahami apa yang dibawa rasul itu, dan mengetahui sifat-sifat dan akhlaknya, supaya mudah bagi mereka menerima dakwahnya.
Ø  Nilai Pendidikan Yang Terkandung
·       Dengan diutusnya rasul oleh Allah untuk umat manusia, bertujuan untuk memberikan pendidikan ilmu pengetahuan dari kitab serta penyempurnaan akhlak dan akidahnya.
·       Pendidikan, pengajaran, dan ketrampilan merupakan bentuk-bentuk untuk menumbuh-kembangkan potensi dalam diri sendiri yang merupakan bagian tugas seorang pondidik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manusia itu pada dasarnya sudah  dianugerahi oleh Allah Swt dua buah kemampuan. Pertama, kemampuan untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain, walaupun pengajaran yang dilakukan manusia itu sifatnya terbatas. Kedua, kemampuan untuk menyerap pengajaran dari orang lain. Jika dihubungkan ke dalam hal Pendidikan, maka kedua kemampuan inilah yang akan menjadi kunci bagi sesuatu agar bisa disebut dengan pelaku pendidikan atau yang biasa disebut dengan Subyek pendidikan, Sejatinya yang diperintahkan untuk berfikir serius atau mendetail mengenai isi dan kandungan Al Qur’an bukan hanya Nabi Muhammad seorang, tetapi seluruh manusia. Sebab Al Qur’an itu merupakan hidayah dari Allah yang fungsi utamanya adalah sebagai petunjuk bagi manusia dalam mengelola hidupnya di dunia secara baik, dan merupakan rahmat untuk seluruh alam semesta. Dari berbagai penjelasan diatas jika dihubungkan dengan pendidikan, maka akan muncul 2 hal penting. Pertama, Mengenai Gambaran seperti apa seharusnya pelaku pendidikan atau yang sering disebut dengan Subyek pendidikan itu, dan yang Kedua, Mengenai bahan ajar atau sesuatu yang akan diajarkan dan diterima oleh para pelaku pendidikan tersebut. Dan Penghoramatan seorang peserta didik terhadap seorang pendidiknya telah dicontohkan oleh Nabi Musa as terhadap al- Khidir. Di antara bentuk-bentuk penghormatan Nabi Musa as terhadap al- Khidir adalah berbicara dengan lemah lembut, tidak banyak bicara, dan menganggap al-Khidir lebih tahu daripada dirinya
B.  Saran-saran
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini belumlah begitu sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kepada siapa saja yang berkenan membaca makalah ini agar kiranya dapat memberikan saran-saran yang sifatnya membangun kepada makalah ini, agar kami dapat memperbaikinya dipembuatan makalah-makalah yang akan datang.
DAFATAR PUSTAKA
1.    Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan,(Jakarta : RINEKA CIPTA), hlm. 8
2.    Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemahanya. (Jakarta: Bumi Aksara,2009),cet. I,
3.    Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurtubi, (Jakarta : Pustaka azzam, 2009).
4.    Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar (tarj. Tim Qisthi Press 2007), Jakarta: Qisthi Press.
5.    Sayyid Qutb, Tafsir fi Zilalil Quran (tarj. As’ad Yasin, dkk. 1421 H/2000 M)Jakarta: Gema Insani.
6.    http://pandidikan .blogspot.com/2010/04/ayat-tentang-subjek-pendidikan.html?m=1 (diakses 17 March 2014, 06:58



[1] . Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan,(Jakarta : RINEKA CIPTA), hlm. 8
[2] . Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemahanya. (Jakarta: Bumi Aksara,2009),cet. I, h.531
[3] . Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurtubi, (Jakarta : Pustaka azzam, 2009), hal. 516-517
[4] .Ibid, Syaikh Imam Al Qurthubi, hal. 516-517
[5] . http://pandidikan .blogspot.com/2010/04/ayat-tentang-subjek-pendidikan.html?m=1 (diakses 17 March 2014, 06:58).
[6] . Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar (tarj. Tim Qisthi Press 2007), Jakarta: Qisthi Press, h. 97.
[7] . Sayyid Qutb, Tafsir fi Zilalil Quran (tarj. As’ad Yasin, dkk. 1421 H/2000 M)Jakarta: Gema Insani, h. 139-140
[8] . http://mkitasolo.blogspot.com/2011/04/tafsir-surat-ali-imron-164.html1 (diakses 17 March 2014, 08:58).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar