BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Al-qur’an adalah
kalamullah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
Sebagai pedoman bagi kehidupan manusia (way of life). Al-qur’an
mengandung beberapa aspek yang terkait dengan pandangan hidup yang dapat
membawa manusia ke jalan yang benar dan menuju kepada kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat. Dari beberapa aspek tersebut, secara global terkandung
materi tentang kegiatan belajar-mengajar atau pendidikan yang tentunya
membutuhkan komponen- komponen pendidikan, diantaranya yaitu pendidik dan
peserta didik.
Pendidik dalam proses
pendidikan adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk mencapai tujuan
pendidikan. Selain pendidik, peserta didik juga mempunyai peran penting dalam
proses pendidikan, tanpa adanya peserta didik, maka pendidik tidak akan bisa
menyalurkan pengetahuan yang dimilikinya sehingga proses pembelajaran tidak
akan terjadi dan menghambat tercapainya tujuan pendidikan antara pendidik dan
peserta didik harus sejalan agar tujuan pendidikan dapat tercapai.
B.
Rumusan Masalah
Ø Apa pengertian subjek pendidikan?
Ø Bagaimana penjelasan ayat-ayat yang mengenai subjek pendidikan?
C.
Tujuan penulisan
Disamping
menunaikan tugas yang telah diberikan oleh Dosen pembimbing makalah ini juga
bertujuan untuk mengetahui bagaiman subjek pendidikan menurut Al-Qur’an dan
ayat-ayat yang mengenai subjek pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian subyek pendidikan
Subjek pendidikan adalah
orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan,
sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek
pendidikan.
Subjek pendidikan yang
dipahami kebanyakan para ahli pendidikan adalah orang tua, guru-guru di
institusi formal (disekolah) maupun non formal dan lingkungan masyarakat,
sedangkan pendidikan pertama (tarbiyatul awwal) yang kita pahami selama
ini adalah rumah tangga (orang tua). Sebagai seorang muslim kita harus
menyatakan bahwa pendidik pertama manusia adalah Allah dan yang kedua adalah
Rasulullah.
Ø Kita dapat membedakan pendidik itu menjadi dua kategori yaitu:
1. Pendidik menurut kodrat, yaitu orang tua
Orang tua sebagai
pendidik menurut kodrat adalah pendidik pertama dan utama, karena secara kodrat
anak manusia dilahirkan oleh orang tuanya (ibunya) dalam keadaan tidak berdayam
hanya dengan pertolongan dan layanan orang tua (terutama ibu) bayi (anak
manusia) itu dapat hidup dan berkembang semakin dewasa. Hubungan orang tua
dengan anaknya dalam hubungan edukatif, mengandung dua unsur dasar, yaitu:
a.
Unsur kasih sayang
pendidik terhadap anak
b. Unsur kesadaran dan tanggung jawab dari pendidik untuk menuntun
perkembangan anak
2. Pendidik menurut jabatan, yaitu guru
Guru adalah pendidik kedua setelah orang tua. Mereka tidak bisa disebut
secara wajar dan alamiah menjadi pendidik, karena mereka mendapat tugas
dari orang tua, sebagai pengganti orang tua. Mereka menjadi pendidik karena
profesinya menjadi pendidik, guru di sekolah misalnya.
Dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru adalah
pendidk profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan
anak usia dini, jalur pendidikan formanl, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.
Guru berfungsi sebagai pendidik di samping sebagai pengajar. Guru membentuk
sikap siswa, bahwa guru menjadi contoh atau teladan bagi siswa-siswanya. Hal
itu tidak mungkin kalau guru hanya bertuigas mengajar saja.[1]
B. Ayat-ayat tentang subyek pendidikan
1) Tafsir Q.S. Ar-Rahman ayat 1-4
ß`»oH÷q§9$# ÇÊÈ zN¯=tæ tb#uäöà)ø9$# ÇËÈ Yn=y{ z`»|¡SM}$# ÇÌÈ çmyJ¯=tã tb$ut6ø9$# ÇÍÈ
Artinya: “Tuhan
yang maha pemurah. Dia-lah yang telah mengajarkan Al-qur’an. Dia telah menjadikan
manusia. Dia telah mengajarnya pandai berbicara”.[2]
Ø Kosa Kata
ٲﻟرَﺣ۟ﻤٰﻦُ = ( Allah) Yang Maha Pemurah
ﻋَﻠَّﻢَ = Dia telah mengajarkan
ٲﻟ۟ﻘُﺮ۟ءَانَ = Al –Qur’an
ﺧَﻠَﻖ = Dia telah menciptakan
ٲﻹِ۟ﻧ۟ﺴٰﻦ = manusia
ﻋَﻠَّﻤَﻪُ = Dia mengajarkannya
ٲﻟَ۟ﺒَﻴَﺎنَ = jelas (berbicara)
Firman Allah SWT ٲﻟرَﺣ۟ﻤٰﻦُ (Allah) yang Maha Pengasih ﻋَﻠَّﻢَٲﻟ۟ﻘُﺮ۟ءَانَ
Yang telah mengajarkan
Al-Qur’an. Maksudnya yaitu yang telah mengajarkan kepada
Nabi-Nya hingga dia dapat menyampaikan kepada seluruh manusia. Surah ini
diturunkan ketika orang-orang bertanya, “ apa ٲﻟرَﺣ۟ﻤٰﻦُ itu?”. Ada juga yang
mengatakan bahwa surah ini turun sebagai bantahan atas penduduk Makkah ketika
mereka berkata, “Sesungguhnya yang mengajarinya (Muhammad) adalah manusia,
yaitu orang Yamamah Yang bernama Rahman.” Yang mereka maksudkan adalah
Musailamah Al Kadzdzab (si pembohong). Allah SWT pun menurunkan firman-Nya, ٲﻟرَﺣ۟ﻤٰﻦُ ﻋَﻠَّﻢَٲﻟ۟ﻘُﺮ۟ءَانَ (Allah)
yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.[3]
Az-Zajjaj berkata, “makna firman Allah SWTﻋَﻠَّﻢَٲﻟ۟ﻘُﺮ۟ءَانَ adalah Dia memudahkan
Al-Qur’an untuk diingat dan dibaca. Sebagaimana Dia berfirman, ﻮَﻟَﻘَﺪ۟ﻳَﺴَّﺮ۟ﻧَﺎٲﻟ۟ﻘُﺮ۟ءَانَﻟِﻠﺬِّﻜ۟ﺮِ “dan
sesungguhnyatelah kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran”.
Firman Allah SWT, ﺧَﻠَﻖَٲﻹِ۟ﻧ۟ﺴٰﻦَ “Dia menciptakan
manusia”. Ibnu Abbas RA,Qatadah dan Hasan berkata,”maksudnya
adalah Adam”.
Firman Allah, ﻋَﻠَّﻤَﻪُٲﻟَ۟ﺒَﻴَﺎنَ “Mengajarnya pandai
berbicara” maksudnya mengajarkan nama-nama segala sesuatu. Ada
juga yang mengatakan bahwa maksudnya adalah mengajarkan bahasa seluruhnya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA juga dan Ibnu Kaisan bahwa maksud ﻹِ۟ﻧ۟ﺴٰﻦَ disini adalah Muhammad SAW dan maksud ٲﻟَ۟ﺒَﻴَﺎن adalah kejelasan yang
halal dan yang haram dan petunjuk dari kesesatan.
Ada lagi yang mengatakan bahwa maksud ﻹِ۟ﻧ۟ﺴٰﻦَ adalah seluruh manusia. Artinya itu
adalah nama bagi jenis, sementara maksud ﻟَ۟ﺒَﻴَﺎن berdasarkan pendapat ini adalah bicara dan paham. Ini termasuk hal yang menjadikan manusia lebih
utama dari seluruh makhluk hidup.[4]
Ø Nilai nilai pendidikan yang terkandung:
Dari surat Ar-Rahman ayat 1-4 kita dapat mengetahui beberapa nilai
pendidikan yang terkandung di dalamnya, yaitu dikatakan bahwa Allah telah
mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia, sehingga manusia tersebut menjadi pandai
dalam berbicara, maksudnya, ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah
kepada manusia itu bertujuan untuk memberi pedoman kepada manusia agar manusia
itu dapat memahami isi serta maknanya, sehingga manusia dapat bertingkah laku
yang sesuai dengan pedomannya yaitu Al-Qur’an.
Dalam kegiatan pembelajaran kita dapat mengartikan seorang guru yang
mengajarkan suatu ilmu kepada muridnya agar dapat dipahami apa yang diberikan
oleh gurunya tersebut. Sehingga ketika seorang guru memberikan evaluasi kepada
muridnya tentang pelajaran yang telah diberikan tersebut, maka muridnyapun akan
dapat menjawab dan mengerjakannya dengan baik dan benar. Sehingga murid
tersebut menjadi pandai dengan ilmu yang telah diberikan oleh gurunya.
2)
Tafsir Q.S.
An-Najm ayat 5-6
¼çmuH©>tã ßÏx© 3uqà)ø9$# ÇÎÈ rè ;o§ÏB 3uqtGó$$sù ÇÏÈ
Artinya: yang
diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat(5). yang
mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) Menampakkan diri dengan rupa yang
asli(rupa yang bagus dan perkasa) (6).
Ø Kosa Kata
ﻋَﻠَّﻪُ = mengajarkan kepadanya
ﻤَﺷَﺪِﻳ۟ﺪ = (Jibril) yang sangat
اﻟ۟ﻘُﻮَﻰ = kuat
ذُو۟ﻣِﺮَّةٍۗ = mempunyai kekuatan
ﻓَﺴ۟ﺘَﻮَی = lalu dia cukup sempurna
Surat An-Najm ayat 5-6 menjelaskan bahwa yang menyampaikan wahyu kepada
Nabi Muhammad SAW. adalah malaikat Jibril yang mana diberi potensi aqliyah yang sempurna. Kemudian dia (Jibril)
juga menampakkan diri dengan rupa yang asli dan tampl sempurna. Dan dalam surat
ini juga menjelaskan bahwa subjek pendidikan adalah malaikat Jibril yang mana
punya potensi yang kuat dalam menerima wahyu-wahyu Allah untuk disampaikan
kepada Nabi Muhammad SAW.[5]
Ø
Nilai-nilai pendidikan yang terkandung:
Pada surat An-Najm ayat 5-6 ditegaskan klasifikasi seorang pendidik atau
siapa saja yang berkompeten menjadi subjek pendidikan, yakni seperti yang
tersurat dalam ayat ini adalah seperti halnya seorang malaikat Jibril yang mana
beliau digambarkan sebagai berikut :
·
Sangat kuat, maksudnya memiliki fisik dan psikis yang matang dan mampu
memecahkan masalah.
·
Mempunyai akal yang cerdas, yakni seorang pendidik haruslah memiliki akal
yang mumpuni dalam mengajarkan apa yang diajarkannya sebagai subyek pendidikan.
·
Menampakkan dengan rupanya yang asli, yakni seorang subyek pendidikan
hendaklah bersikap wajar yang tidak melebih-lebihkan segala sesuatu baik
dirinya maupun apa yang dilakoninya dalam bidangnya.
Berdasarkan penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sebagai subjek
pendidikan kita harus:
· Dapat menjadi model dan teladan bagi murid-murid kelak.
· Menguasai materi yang akan diajarkan.
· Bersikap sewajarnya seorang guru tanpa ada sesuatu yang menyimpang.
3)
Tafsir Q.S. Al-Baqaroh ayat 129
$uZ/u ô]yèö/$#ur öNÎgÏù Zwqßu öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Gt öNÍkön=tæ y7ÏG»t#uä ÞOßgßJÏk=yèãur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur öNÍkÏj.tãur 4
y7¨RÎ) |MRr& âÍyèø9$# ÞOÅ3ysø9$# ÇÊËÒÈ
Artinya: Ya
Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al
kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Ini
adalah doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang ketiga dan yang terakhir di
sela-sela kesibukannya menyelesaikan renovasi dan pemugaran Ka’bah. Kandungan
doa ini hanya satu macam, tapi agaknya ke sinilah semua doa sebelumnya
bermuara. Yaitu, kedua nabi besar ini meminta agar di tengah-tengah masyarakat
baru yang dibentuknya suatu saat di-bi’tsa (dibangkitkan) seorang rasul
dari kalangan mereka sendiri; maksudnya, dari kalangan ذُرِّيّة (dzurriyah,
keturunan)-nya
yang bermukim di tempat itu. Doa ini mengisyaratkan bahwa dari rumpun ذُرِّيّة (dzurriyah,
keturunan)-nya
akan ada satu garis yang terjaga kesuciannya, yang tidak melakukan kezaliman,
yang kelak akan melahirkan buah kerasulan, yang akan menghidupkan kembali مِّلَّة (millah)
Ibrahim, memurnikan manasik-nya, dan mengimami أُمَّةً مُّسْلِمَةً (ummatan muslimatan, Umat
Muslim). Di sinilah kita bisa dengan mudah memahami kenapa ada doa pertobatan
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di ujung doanya di ayat sebelumnya (128). Rupanya,
doa itu adalah pagar terhadap generasi demi generasi agar garis tersebut
benar-benar terjaga. Metoda penjagaan dan keterjagaan inilah yang Allah hendak
sampaikan saat menceritakan prosesi kelahiran Nabi Isa dari seorang wanita suci
bernama Maryam yang juga merupakan ‘hasil’ penjagaan dari generasi sebelumnya,
yakni Keluarga Imran.
Ø Nilai-Nilai Pendidikan
yang Terkandung
1. Pendidik
Dalam ayat tersebut, yang berperan sebagai pendidik adalah Rasul.[6] Di sini Allah menggunakan kata يُعَلِّمُهُم (yu’allimuɦum), yang artinya
“mengajarkan kepada mereka”. Yang perlu kita garisbawahi di sini ialah kata يُعَلِّم (yu’allimu)-nya.
Karena ini menunjukkan bahwa, dalam kaitannya dengan Kitab Suci, ‘profesi’
rasul ialah sebagai guru dalam seluruh pengertiannya (mengajarkan,
mencontohkan, menuntunkan cara penerapannya), persis ‘profesi’.
2. Peserta Didik
Peserta didik yang ada dalam ayat tersebut adalah umat nabi Muhammad SAW.
Dimana Rasul akan mengajarkan orang-orang yang ummi (yang tidak mengerti baca
tulis), menuntun orang-orang yang sesat kejalan kebaikan, dan menegakkan
kebenaran di seluruh alam semesta.[7]
3. Metode Pendidikan
Metode pendidikan
terdapat pada, يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ (yatlŭw ‘alayɦim āyātika,
menelaahkan kepada mereka ayat-ayat-Mu). Kata يَتْلُو
(yatlŭw,
menelaahkan) bermakna menguraikan sedemikian rupa sehingga penerima bisa
memahaminya dengan benar, jadi bukan sekedar membacakan atau menyampaikan. Di
Surat Yusuf ayat 108 dikatakan عَلَى بَصِيرَةٍ (‘alā bashĭyratin), dengan
argumen yang bisa diterima oleh bashĭrah, oleh cernaan nalar insani atau
akal budi (baik melalui telaah intelektual ataupun melalui serapan spiritual),
sehingga penerima tidak punya celah untuk ‘lari’. Sehingga yang menolak,
benar-benar hanyalah mereka yang tertutup pintu hati dan pikirannya; dan
karenanya pantas disebut “kafir” (sengaja ingkar).
Jadi, pada ayat tersebut, metode pendidikan yang digunakan adalah dengan
membacakan, mengajarkan, dan menyucikan (melarang mereka dari perbuatan dosa
dan kejahatan).
4. Materi pendidikan
Dalam ayat tersebut apa
yang ditelaahkan atau yang diajarkan? Jawabannya: آيَاتِكَ
(āyātika),
ayat-ayat, tanda-tanda, petunjuk-petunjuk, atau alamat-alamat yang mengantarkan
penerima mengenal dan memahami hakikat “ayat” tersebut dan hubungan
singkronitasnya dengan Pemilik “ayat” alias Penciptanya. Dari sini diharapkan
muncul kesadaran bertingkat, sesuai dengan kadar mujahadah dan martabat
ruhani yang telah dicapainya. Untuk kalangan pemula (al-mubtadi), timbul
pemahaman bahwa betul-betul لامعبودالاالله (lā ma’bŭwda illallaɦ,
tidak ada yang pantas diibadahi selain Allah). Sementara untuk kalangan
menengah (al-mutawassith), mereka sudah sampai pada faham bahwa bukan
saja tidak ada yang pantas diibadahi selain Allah, tapi juga لامقصودالاالله (lā
maqshŭwda illallaɦ, tidak ada yang pantas dituju selain Allah).
Dan kalangan pemilik martabat paling tinggi (al-muntaɦā) sudah meyakini
bahwa الاالله لامحبوب (lā mahbŭwba illallaɦ, tidak ada yang pantas
dicintai selain Allah).
5. Media Pendidikan
Media pendidikan
terdapat pada, وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (wa yu’allimuɦumul-kitāba wal-hikmah, dan
mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah). Beranjak dari kesadaran
teologis setelah ‘menyaksikan’ tanda-tanda kebesaran Allah, setelah meyakini
keberadaan-Nya, dan merasakan sentuhan-Nya, Rasul kemudian mengajari mereka
Kitab Suci. Ini penting. Karena bagaimana mungkin seseorang meyakini Kitab Suci
sebagai ‘wejangan’ Tuhan kalau pada saat yang sama yang bersangkutan tidak
meyakini adanya Tuhan. Bisa diformulasikan begini: “Daya serap seseorang
terhadap Kitab Suci berbanding lurus dengan kesadaran teologis orang itu.”
Semakin sempurna kesadaran teologis seseorang semakin sempurna pula fahamannya
terhadap Kitab Suci. Begitu juga sebaliknya. Jadi, media pendidikan yang ada dalam ayat tersebut adalah al-Kitab
(al-Quran), dan al-Hikmah (Al-Sunnah).
6. Kurikulum Pendidikan
Doanya singkat. Namun
yang agak panjang disebutkan di dalamnya ialah tugas dari rasul tersebut. Ada
tiga tugas pokok seorang rasul: menelaahkan kepada manusia ayat-ayat Allah,
mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah, dan mensucikan mereka. Di
beberapa ayat (2:151, 3:164, dan 62:2) susunan ini dibalik, dengan menempatkan
“mensucikan mereka” pada urutan kedua setelah “menelaahkan kepada manusia
ayat-ayat Allah”. Susunan ini sekaligus semacam kurikulum yang memuat tema-tema
pokok yang harus dilakukan oleh seorang rasul (atau pengganti pelaksana rasul,
termasuk para ustad dan muballigh) karena sejalan dengan tuntutan fithrah
manusia, sejalan dengan alur pertanyaan intelektual, sejalan dengan hasrat
kerinduan spiritual.
7. Tujuan Pendidikan
Dalam ayat tersebut, tujuan pendidikan yang hendak dicapai adalah untuk
memberikan pemahaman tentang ajaran-ajaran yang ada dalam al-Quran dan
al-Sunnah.
4) Tafsir Q.S. Al-Imron Ayat 164
ôs)s9 £`tB ª!$# n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# øÎ) y]yèt/ öNÍkÏù Zwqßu ô`ÏiB ôMÎgÅ¡àÿRr& (#qè=÷Gt öNÍkön=tæ ¾ÏmÏG»t#uä öNÍkÅe2tãur ãNßgßJÏk=yèãur |=»tGÅ3ø9$# spyJò6Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% Å"s9 9@»n=|Ê AûüÎ7B ÇÊÏÍÈ
Artinya: sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum
(kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Di dalam ayat ini,
Allah memberitahukan kepada semua umat Rasulullah saw. bahwa diutusnya seorang
nabi dari kalangan manusia kepada mereka adalah satu karunia yang sangat besar
dan tak pernah tertandingi oleh kenikmatan apapun.Rasul yang diutus kepada manusia
itu mempunyai beberapa tugas. Diantaranya adalah:
1.
Membacakan ayat-ayat
Allah.
2.
Mensucikan dari berbagi
dosa dengan mengajak mereka untuk selalu bertaubat dan berhenti melakukan
maksiat.
3.
Mengajarkan Al-Qur`an
dan Hadits.
Dengan adanya Rasul,
manusia yang dulunya tersesat, memiliki faham yang salah, melakukan
perbuatan-perbuatan asusila, mereka lantas mendapat pencerahan dan petunjuk
kebenaran. Mereka mendapatkan cahaya hidayah, dimana sebelumnya mereka ada
dalam kegelapan yang nyata. Mereka lantas tahu mana yang benar dan mana yang
salah, mana yang haq mana yang bathil. Karena ajaran Islam yang dibawa oleh
Rasulullah SAW. telah mampu mengubah kebiasaan buruk mereka, dan
mampumengentaskan mereka dari segala bentuk kejahiliyyahan.
Ø Nilai-nilai pendidikan yang terkandung
Dalam ayat ini dapat
kita ambil pelajaran tentang tiga prinsip dasar pendidikan. Yaitu:
·
Tilawah. Hal ini memberikan isyarat bahwa dalam pendidikan perlu diajarkan sebuah
skill atau yang sekarang dikenal dengan kemampuan afektif. Karena tilawah
adalah salah satu bentuk skill membaca yang sungguh sangat penting. Karena
denganya terbuka berbagai cakrawala pengetahuan. Dalam praktekanya, Rasulullah
menghasung umatnya untuk mengembangkan berbagai skill, seperti belajar memanah,
menunggang kuda, berenang, menguasai bahasa asing, dll.
·
Tazkiyah. Hal ini menunjukkan perlu adanya pendidikan emosional atau yang dikenal
dengan istilah psikomotorik. Maka tidak heran jika Rasulullah selalu membina
umatnya tentang pentingnya akhlak-akhlak yang mulia, seperti jujur, pemaaf,
tidak mudah marah, sabar dan ridho terhadap sebuah musibah dll.
·
Ta’lim, bisa disebut dengan kemampuan kognitif. Yaitu dengan adanya transfer ilmu
sehingga umat mempunyai kemampuan untuk berpikir dan mengamalkan.
Tiga prinsip ini harus
dimiliki oleh seorang pendidik. Entah itu guru, ustadz, suami, istri, ayah, ibu
atau yang lainnya.
Kebanyakan orang tua
hanya memikirkan bagaimana caranya supaya anak bisa mendapatkan kecerdasan IQ
dan prestaasi yang luar biasa, tetapi mereka melupakan kualitas spiritual dan
emosional mereka. Sehingga bila anak-anak belajar agama, mereka hanya disuruh
menghafal saja tanpa adanya pengamalan dan penghayatan dari apa yang mereka
lakukan. Mereka hafal cara berwudhu, shalat, dan sebagainya. Tetapi hanya
sebatas hafal sehingga apa yang mereka pelajari tidak berbekas apapun dalam
kehidupan mereka. Oleh karena itu, marilah kita didik anak-anak kita dengan
baik dan benar sesuai dengan Al-Qur`an dan hadits. Sebagai orang tua, pendidik
mereka yang pertama kali, kita harus mengarahkan mereka menjadi tunas-tunas
Islam yang berkualitas, yang mempunyai ilmu din Islam yang dalam, disamping
ilmu keduniaan. Tidak hanya berhenti sampai di situ. Tetapi juga sampai pada
tingkat mereka mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain. Sebagaimana
dikatakan oleh ulama Al-ilmu laisa lir riwayah walakin lil amal. Ilmu
itu bukan hanya diriwayatkan (ditransfer) saja. Tapi perlu adanya pengamalan.
Tidak ada gunanya hanya belajar saja tetapi tidak mengamalkan ilmu tersebut.
Sebagai orang tua
ataupun guru, perlu adanya pemberian contoh yang benar selama mengajarkan atau
memerintah kebaikan kepada anak-anak. Sebab pemberian contoh atau praktek dari
seorang guru atau orang tua akan memberikan bekas yang lebih mendalam didalam
kepribadian anak-anak.[8]
5)
Tafsir Q.S. Al-Jumuah ayat 2
uqèd Ï%©!$# y]yèt/ Îû z`¿ÍhÏiBW{$# Zwqßu öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Ft öNÍkön=tã ¾ÏmÏG»t#uä öNÍkÏj.tãur ãNßgßJÏk=yèãur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% Å"s9 9@»n=|Ê &ûüÎ7B ÇËÈ
Artinya: Dia-lah
yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang
membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan
mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya
benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah telah membangkitkan di kalangan orang
Arab yang ummiy itu seorang rasul yang diutus untuk segenap manusia dengan
membawa kitab dan hikmah. Yang demikian itu adalah keutamaan allah yang
diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Allah mengutus Rasul seorang ummiy yang tidak dapat membaca dan menulis,
agar kenabiannya tidak diragukan dengan kata-kata mereka, bahwa dia telah
mengambilnya dari kitab-kitab orang-orang terdahulu.
Di antara
hikmah Allah Ta’ala, bahwa dia mengutus rasul yang seprti mereka, ialah agar
mereka memahami apa yang dibawa rasul itu, dan mengetahui sifat-sifat dan
akhlaknya, supaya mudah bagi mereka menerima dakwahnya.
Ø Nilai Pendidikan Yang Terkandung
·
Dengan diutusnya rasul oleh Allah untuk umat manusia, bertujuan untuk
memberikan pendidikan ilmu pengetahuan dari kitab serta penyempurnaan akhlak
dan akidahnya.
·
Pendidikan, pengajaran, dan ketrampilan merupakan bentuk-bentuk untuk
menumbuh-kembangkan potensi dalam diri sendiri yang merupakan bagian tugas
seorang pondidik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manusia
itu pada dasarnya sudah dianugerahi oleh Allah Swt dua buah kemampuan. Pertama,
kemampuan untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain, walaupun pengajaran yang
dilakukan manusia itu sifatnya terbatas. Kedua, kemampuan untuk menyerap
pengajaran dari orang lain. Jika dihubungkan ke dalam hal Pendidikan, maka
kedua kemampuan inilah yang akan menjadi kunci bagi sesuatu agar bisa disebut
dengan pelaku pendidikan atau yang biasa disebut dengan Subyek pendidikan, Sejatinya yang diperintahkan untuk berfikir
serius atau mendetail mengenai isi dan kandungan Al Qur’an bukan hanya Nabi
Muhammad seorang, tetapi seluruh manusia. Sebab Al Qur’an itu merupakan hidayah
dari Allah yang fungsi utamanya adalah sebagai petunjuk bagi manusia dalam
mengelola hidupnya di dunia secara baik, dan merupakan rahmat untuk seluruh
alam semesta. Dari
berbagai penjelasan diatas jika dihubungkan dengan pendidikan, maka akan muncul
2 hal penting. Pertama, Mengenai Gambaran seperti apa seharusnya pelaku
pendidikan atau yang sering disebut dengan Subyek pendidikan itu, dan yang Kedua,
Mengenai bahan ajar atau sesuatu yang akan diajarkan dan diterima oleh para
pelaku pendidikan tersebut. Dan Penghoramatan
seorang peserta didik terhadap seorang pendidiknya telah dicontohkan oleh Nabi
Musa as terhadap al- Khidir. Di antara bentuk-bentuk penghormatan Nabi Musa as
terhadap al- Khidir adalah berbicara dengan lemah lembut, tidak banyak bicara,
dan menganggap al-Khidir lebih tahu daripada dirinya
B. Saran-saran
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah
ini belumlah begitu sempurna. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kepada siapa saja yang berkenan membaca makalah ini agar kiranya
dapat memberikan saran-saran yang sifatnya membangun kepada makalah ini, agar
kami dapat memperbaikinya dipembuatan makalah-makalah yang akan datang.
DAFATAR PUSTAKA
1.
Fuad Ihsan, Dasar-dasar
Kependidikan,(Jakarta : RINEKA CIPTA), hlm. 8
2.
Departemen Agama RI, Al-qur’an
dan Terjemahanya. (Jakarta: Bumi Aksara,2009),cet. I,
3.
Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurtubi, (Jakarta : Pustaka
azzam, 2009).
4.
Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar
(tarj. Tim Qisthi Press 2007), Jakarta: Qisthi Press.
5.
Sayyid Qutb, Tafsir fi Zilalil
Quran (tarj. As’ad Yasin, dkk. 1421 H/2000 M)Jakarta: Gema Insani.
6.
http://pandidikan
.blogspot.com/2010/04/ayat-tentang-subjek-pendidikan.html?m=1 (diakses 17 March 2014,
06:58
[5] . http://pandidikan
.blogspot.com/2010/04/ayat-tentang-subjek-pendidikan.html?m=1 (diakses 17 March 2014,
06:58).
[7] . Sayyid Qutb, Tafsir fi Zilalil Quran (tarj. As’ad Yasin,
dkk. 1421 H/2000 M)Jakarta: Gema Insani, h. 139-140
[8] . http://mkitasolo.blogspot.com/2011/04/tafsir-surat-ali-imron-164.html1
(diakses 17 March 2014,
08:58).